ghl-kan_r.jpg

Google Ads 3

 Rencana dan realisasi produksi kayu bulat blok TPTI dan PWH sejak IUPHHK PT Gema Hutani Lestari beroperasi sebagai berikut :

 

Tabel Realisasi Produksi - PT Gema Hutani Lestari

 *)   Berdasarkan dokumen LMKB (Januari - Desember). SA = Self Approval

 

Komposisi Vegetasi Utama (Principal Species) di areal kerja PT Gema Hutani Lestari adalah sebagaimana dibawah ini :

  •     Meranti (Shorea sp)
  •     Matoa ( Pometia pinnata)
  •     Nyatoh (Palaqium sp)
  •     Uhun (Eucalyptus papuana)
  •     Medang (Litsea amura )
  •     Ketapang (Terminalia katappa)
  •     Sengon (Paraseriantes falcataria)
  •     Binuang (Ochroma bicolor)
  •     Samama (Anthocepalus macrophylla)
  •     Belu Hitam (Nyiristica sp)
  •     Sukun Hutan (Artocarpus sp)
  •     Kayu Merah (Weinmania fraxiena)

RKUPHHK HA - PT Gema Hutani Lestari

Rencana Kerja Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada Hutan Alam (RKUPHHK-HA) Berbasis IHMB Periode Tahun 2012 s/d 2021 a/n PT Gema Hutani Lestari telah disetujui dan disyahkan Menteri Kehutanan RI berdasarkan SK Menteri Kehutanan No.SK.173/VI-BUHA/2011 tanggal 27 Desember 2011.

RKUPHHK-HA Berbasis IHMB Periode Tahun 2012 s/d 2021 tersebut direvisi berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : SK.18/BUHA-2/2013 tanggal 29 April 2013 tentang Persetujuan Revisi/Perubahan Rencana Kerja Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu dalam Hutan Alam Pada Hutan Produksi Berbasis Inventarisasi Hutan Menyeluruh Berkala (IHMB) Periode Tahun 2014 - 2023 an. PT Gema Hutani Lestari. 

RKUPHHK-HA Berbasis IHMB Periode Tahun 2014 - 2023 tersebut juga telah direvisi kembali dan periodenya juga dikembalikan menjadi Periode 2012 - 2021 dan telah disetujui an. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Plt Direktur Jenderal Nomor : SK.9787/MenLHK-PHPL/UHP/HPL.1/11/2019 tanggal 26 Nopember 2019, berdasarkan pertimbangan :

  • Terjadinya perubahan areal kerja IUPHHK-HA PT Gema Hutani Lestari dari Hutan Produksi (HP) menjadi Hutan Lindung (HL) seluas +/- 569,9 Ha, berdasarkan Surat Keputusan Menterri Kehutanan No. : SK.854/Menhut-II/2014 tanggal 12 September 2014 (Peta Kawasan Hutan dan Konservasi Perairan Provinsi Maluku Skala 1 : 250.000).
  • Terjadinya perubahan luas areal kerja IUPHHK-HA PT Gema Hutani Lestari setelah dilaksanakan Tata Batas Temu Gelang.
  • Rencana kegiatan Tehnik SIlvikultur Intensif (SILIN) yang dimulai tahun 2019.

Berikut sasaran Revisi Rencana Kerja Usaha Pemanfaatan hasil Hutan kayu pada Hutan Alam (RKUPHHK-HA) PT Gema Hutani Lestari selama Jangka Waktu 10 (Sepuluh) Tahun Periode Tahun 2012 s/d 2021 yang telah disetujui an. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Plt Direktur Jenderal Nomor : SK.9787/MenLHK-PHPL/UHP/HPL.1/11/2019 tanggal 26 Nopember 2019 . Klik di sini.

RKTUPHHK HA SELF APPROAVAL - PT GEMA HUTANI LESTARI 

Penilaian dan penyusunan RKTUPHHK 2020 PT Gema Hutani Lestari dilakukan secara Self Approval.  Hal ini berdasarkan ketentuan Pasal 11 PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR P.33/Menhut-II/2014 TENTANG INVENTARISASI HUTAN MENYELURUH BERKALA DAN RENCANA KERJA PADA IZIN USAHA PEMANFAATAN HASIL HUTAN KAYU DALAM HUTAN ALAM dimana disebutkan :

"Dalam hal pemegang IUPHHK-HA mendapat sertifikat PHPL skema mandatory dengan kategori kinerja Baik, pemegang IUPHHK-HA dapat diberikan kewenangan dan tanggung jawab untuk menilai dan mengesahkan RKTUPHHK-HA secara mandiri dan ditandatangani/disetujui oleh Direktur Utama atau Ketua Koperasi pemegang IUPHHK-HA (self-approval) tanpa pengesahan dari Pejabat yang berwenang". 

Perbedaan Penilaian dan Pengesahan RKTUPHHK Secara Mandiri (Self Approval).

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.33/Menhut-II/2014

TENTANG INVENTARISASI HUTAN MENYELURUH BERKALA DAN RENCANA KERJA PADA IZIN USAHA PEMANFAATAN HASIL HUTAN KAYU DALAM HUTAN ALAM

Non Self Approval

Self Approval

Pemegang IUPHHK-HA

Dinas Kehutanan Provinsi 

Biaya

Ditanggung Pemegang IUPHHK-HA

Pemegang IUPHHK-HA

Pasal 9

1.      Berdasarkan RKUPHHK-HA yang telah disetujui, setiap pemegang IUPHHK-HA wajib menyusun dan mengajukan usulan RKTUPHHK-HA

x

 

x

2.     Usulan RKTUPHHK-HA tahun berikutnya diajukan paling lambat 2 (dua) bulan sebelum berakhir masa berlakunya RKTUPHHK-HA.

x

 

-

3.      Usulan RKTUPHHK-HA sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), diajukan kepada Kepala Dinas Provinsi, dg tembusan kepada :

a.     Direktur Jenderal;

b.     Kepala Dinas Kabupaten/Kota;

c.      Kepala UPT; dan

d.     Kepala KPH.

x

 

-

4.      Usulan RKTUPHHK-HA disusun oleh GANISPHPL-TC dan/atau GANISPHPLCANHUT dan ditandatangani/disetujui Direktur Utama atau Ketua Koperasi pemegang IUPHHK-HA.

-

 

x

5.      Penyampaian tembusan usulan RKTUPHHK-HA kepada Direktur Jenderal sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a, disampaikan melalui Sistem Informasi Produksi Hutan Alam Online (SIPHAO).

x

 

-

Pasal 10

1.     Usulan RKTUPHHK-HA sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9, disusun berdasarkan :

a.     RKUPHHK-HA yang telah disetujui;

b.     Rekapitulasi LHC, yang ditandatangani oleh GANISPHPL-TC atau GANISPHPL-CANHUT; dan

c.      c. Peta hasil penafsiran dari Citra Satelit (skala 1 : 50.000) berumur maksimal 2 (dua) tahun terakhir.

x

 

x

Pasal 13

1.      Kepala Dinas Kabupaten/Kota paling lambat 14 (empat belas) hari kerja sejak diterimanya tembusan usulan RKTUPHHK-HA, melaksanakan pemeriksaan lapangan terhadap :

 
  • Pelaksanaan batas blok RKT

 

 x

x

Dilakukan sendiri

  • Plaksanaan timber cruising dengan intensitas sebesar 1% (satu persen)

 

 x

x

Dilakukan sendiri

  • Pelksanaan pembinaan hutan (TPTI) penanaman tanah kosong, kanan kiri jalan.

 

 x

x

Dilakukan sendiri

2.     Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan oleh 1 (satu) tim dan hasil pemeriksaan dituangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan

 

 x

x

BAP Pemeriksaan Sendiri

         
         

 

 

Pemanenan dan Pelatihan RIL - PT Gema Hutani Lestari


Pemanenan RIL - ramah lingkungan - merupakan salah satu strategi pengelolaan dan pemanfaatan hutan sekaligus merupakan sasaran dalam penerapan metode penebangan RKUPHHK-HA periode 2012 s/d 2021 yang berbasis IHMB di IUPHHK-HA PT Gema Hutani Lestari.

Mengingat pentingnya penerapan pemanenan yang ramah lingkungan karena merupakan Standar Penilaian Kinerja Pengelolaan Hutan Lestari baik Skema Mandatory Departemen Kehutanan maupun Voluntary (FSC®) khususnya : Indikator 2.4 yaitu ketersediaan dan penerapan teknologi tepat guna untuk menjalankan PHPL, Indikator 5.3 (FSC®) yaitu pengelolaan hutan harus meminimalkan limbah yang diakibatkan oleh kegiatan penebangan dan kegiatan pengolahan di lokasi dan menghindari kerusakan terhadap sumberdaya hutan lainnya, Indikator 6.5a (FSC®) yaitu pedoman tertulis harus disiapkan dan diterapkan untuk mengendalikan erosi, meminimalisir kerusakan selama pembuatan jalan, dan seluruh kegiatan mekanis lainnya, Indikator 6.5b (FSC®) yaitu pedoman tertulis harus disiapkan untuk melindungi sumberdaya air, maka pada Januari 2005, PT Gema Hutani Lestari menandatangani kerjasama dengan Tropical Forest Foundation (TFF) untuk membantu memberikan pelatihan Reduced Impact Logging (RIL) di IUPHHK-HA PT Gema Hutani Lestari.

  • Pembuatan Peta Kontur dan Posisi Pohon

TFF melaksanakan kegiatan pelatihan pertama tentang peta kontur serta posisi pohon pada bulan Juni 2005. Gabungan antara pelatihan di dalam kelas dan di lapangan dilakukan di camp produksi PT Gema Hutani Lestari dan di dalam blok penebangan yang ditujukan untuk pemanenan tahun 2005, namun masih berada di dalam sistem jaringan jalan yang sudah dibangun.  Sebagaim usaha pertama dalam pembuatan peta kontur dan posisi pohon, hasil pelatihan yang dilakukan blok demo memberi hasil yang lumayan baik. Kru inventarisasi PT Gema Hutani Lestari cepat sekali memahami persyaratan yang dibutuhkan dalam prosedur survey dan berhasil menyelesaikan peta kontur dan posisi pohon yang akurat yang dapat menjadi dasar masukan dalam pelatihan kedua.

  •  Perencanaan, Pelatihan Operasional dan Demonstrasi

Sesi pelatihan kedua berlangsung bulan September 2005 dan difokuskan pada perencanaan RIL dan kegiatan operasional di dalam blok penebangan yang dipetakan sebagai hasil dari pelatihan pertama.  Pelatihan operasional dan peragaannya diawali dengan latihan di dalam kelas mengenai pertimbangan perencanaan, standar operasional dan lingkungan, dan pemanfaatan praktis dari peta operasional. Rencana pembuatan jalan sarad disiapkan untuk seluruh blok peragaan. Ini mencakup pembatasan areal yang sangat curam yang tidak disertakan dalam kegiatan pembalakan.

  • Evaluasi Setelah Pemanenan

Pelatihan ketiga dilakukan pada bulan Desember 2005 setelah pembalakan di blok percobaan RIL selesai dilakukan. Kolaborasi ini merupakan kombinasi dari kegiatan pelatihan, evaluasi setelah pemanenan serta riset operasional yang berhubungan dengan deaktivasi, asesment kerusakan pada lapisan tanah, asesmen limbah pembalakan yang dapat dihindari serta masalah-masalah lain yang berkaitan dengan pemantauan dan evaluasi.

Tipologi Hutan - PT Gema Hutani Lestari


Kepentingan dari diketahuinya tipologi areal kerja IUPHHK-HA (bioregional) termasuk di dalamnya PT Gema Hutani Lestari adalah dapat memberikan gambaran kondisi areal kerja secara konkret terkait sensitifitas ekosistem hutan, sensitifitas komunitas dan inovasi teknologi untuk meminimalkan dampak negatif yang mungkin terjadi dari kegiatan pengelolaan dan pemanfaatan hutan.

Berdasarkan Pedoman LEI Seri 99 - 21 penetapan Tipologi suatu IUPHHK-HA diklasifikasikan menjadi 3 (tiga) yaitu tipologi menurut aspek ekologi, sosial dan produksi. Yang menjadi catatan untuk tipologi ekologi adalah bahwa semakin besar skala ordinalnya (makismal 3), makin sensitif ekosistem hutan terhadap gangguan.


Penetapan tipologi menurut aspek sosial ditentuka oleh matrik kombinasi faktor teknik produksi, (berburu dan meramu, peladang rotasi, pertanian menetap lahan kering, pertanian intensif) zona pemanfaatan (di luar kawasan, bersinggungan, di dalam kawasan), tingkat kepadatan agraris (rendah, sedang tinggi) dan motif produksi (subsisten, komersial). Mengacu kepada matrik tersebut maka hasil survey yang dilakukan akan menghasilkan suatu Nilai Skala Sensitifitas Komunitas (01-18, 19-36, 37-54, 55-72) yang selanjutnya disederhanakan dalam skala pembobotan untuk menetapkan tipologi-nya (01, 02, 03, 04).


Sebagai contoh, jika skala nilai sensitifitas komunitas 55, maka tiopologinya adalah 04 yang berarti prioritas, pemenuhan maksimum dari kemungkingan yang maksimum (>74,94 - 100.00).


Penetapan tipologi produksi ditentukan oleh penetapan tipologi menurut aspek ekologi dan aspek sosial. Artinya jika tipologi menurut aspek ekologi 02 dan sosial 04 maka tipologi menurut aspek produksi adalah 10 sosio yang berarti untuk meminimalkan dampak negatif terhadap ekosistem biofisik maupun sosial yang mungkin terjadi akibat aktifitas pengelolaan/pemanfaatan hutan, maka diperlukan inovasi teknologi seperti misalnya penerapan pemanenan ramah lingkungan (Reduced Impact Logging)

Berikut tipologi areal kerja PT Gema Hutani Lestari berdasarkan Laporan Akhir Penilaian Kinerja Pengelolaan Hutan Alam Produksi Lestari IUPHHK PT Gema Hutani Lestari oleh LPI Mampu PT Almasentra Konsulindo, 2008.

 

Uraian
Tipologi
Aspek Ekologi
02
Aspek Sosial
04
Aspek Produksi
10 Sosio