ghl-tuv_r.jpg

Google Ads 3

Penelitian Mahasiswa Universitas Patimura Ambon

Penelitian terkait penerapan Reduced Impact Logging (RIL) di PT Gema Hutani Lestari dilakukan oleh Jhon A. Latumaerissa, Mahasiswa Jurusan Kehutanan Universitas Patimura Ambon, NIM 200260031. Penelitian dilaksanakan selama 1 (satu) bulan di RKT 2007 lokasi Waenibe-Waegeren yang dilakukan secara acak berdasarkan persentasi kelas kelerengan yaitu datar (0-8%), landai (8-15%), bergelombang (15-25%) dan curam (25-40%).

Output penelitian yang dilakukan adalah untuk mengetahui tingkat kerusakan tegakan berupa kerusakan kulit, kerusakan batang dan kerusakan banir serta potensi tebangan rotasi berikutnya pada sistem pemanenan RIL dan Konvensional pada kelas kelerengan yang berbeda.

Kerusakan tegakan diakibatkan oleh kondisi lapangan yang curam, kayu yang disarad dalam ukuran yang panjang, gesekan pisau traktor dan benturan-benturan kayu. Dari hasil penelitian diketahui bahwa kelerengan berkorelasi positif dengan tingkat kerusakan tegakan artinya semakin berat kelerangan lokasi pemanenan maka semakin besar tingkat kerusakan tegakan yang terjadi.

Kerusakan Kulit

Ada 3 (tiga) kriteria klasifikasi kerusakan kulit yaitu Klasifikasi Sehat (kayu selebar 0,25 lingkaran batang dengan panjang kerusakan antara 0 1,5 meter), Klasifikasi Luka (kayu selebar 0,25 lingkaran batang dengan panjang kerusakan 1,6 - 6,0 meter), Klasifikasi Rusak (kayu selebar 0,25 lingkaran batang dengan panjang kerusaakan di atas 6,1 meter). Berdasarkan hasil penelitian tersebut disimpulkan bahwa tingkat kerusakan kulit pada sistem pemanenan RIL lebih kecil dibandingkan dengan kerusakan kulit yang terjadi pada sistem pemanenan Konvensional. Rata-rata kerusakan kulit pada areal penelitian dengan sistem pemanenan RIL adalah 12,41% lebih kecil dibandingkan dengan sistem Konvensional sebesar 23,08%.

Kerusakan Batang

Klasifikasi kerusakan batang pada penelitian ini yaitu tumbang/roboh, pecah akibat dorongan atau tertumbuk pisau traktor. Sedangkan klasifikasi kerusakan batang berupa patah akibat penyebab langsung proses penebangan tidak dijumpai.  Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa tingkat kerusakan batang pada sistem pemanenan RIL lebih kecil dibandingkan dengan kerusakan kulit yang terjadi pada sistem pemanenan Konvensional. Rata-rata kerusakan kulit pada areal penelitian dengan sistem pemanenan RIL adalah 18,09% lebih kecil dibandingkan dengan sistem Konvensional sebesar 29,18%.

Kerusakan Banir

Kerusakan Banir terutama diakibatkan karena tumbukan pisau traktor yang merupakan penyebab langsung dan juga akibat kayu yang disarad. Jenis kerusakan banir dengan sistem RIL rata-rata sebanyak 2 pohon lebih kecil dibandingkan dengan sistem Konvensional yaitu rata-rata sebanyak 2,43 pohon.

Potensi Tegakan Untuk Tebangan Berikutnya

Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa persediaan untuk rotasi tebang berikutnya untuk sistem RIL maupun sistem konvensional dianggap terjamin dimana pohon yang sehat 260 pohon (367.43 m3) atau rata-rata 16.25 pohon (22.96 m3) untuk sistem RIL dan sistem Konvensional dengan jumlah pohon yang sehat 167 pohon (216.15 m3) atau rata-rata 10.44 pohon (13.51 m3) untuk setiap petak ukur. Mengingat jumlah pohon yang termasuk klasifikasi kerusakan untuk kulit dan banir dapat berkembang walaupun pertumbuhannya terhambat.

Google Ads 2