sertifikat-website-rev-1.jpg

Google Ads 3

Kajian Biofisik Hutan Alam Produksi


Kerjasama dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktifitas Hutan Kementerian Kehutanan RI.

Penerapan sistem silvikultur di hutan alam produksi akan berpengaruh pada perubahan komposisi, jumlah dan keberadaan suatu jenis pada setiap tingkat pertumbuhan.  Perubahan ini juga dipengaruhi oleh bentuk fisik lahan dalam hal ini kelas kelerengan.  Untuk itu penelitian ini disusun untuk menduga hubungan antara INP suatu jenis pada berbagai tingkat pertumbuhan dengan kelas kelerengan, menduga keragaman dan kekayaan jenis melalui metode penelitian survey.


Hasil penelitian menunjukkan bahwa besarnya INP di areal konsesi PT Gema Hutani Lestari pada tingkat :

  •    Pohon, untuk untuk kelompok Non-Meranti adalah 180,50% dan kelompok Meranti mencapai 119,50%.
  •    Tiang, untuk kelompok Non-Meranti adalah 253,47% dan kelompok Meranti adalah 46,53%.
  •    Pancang, untuk kelompok Non-Meranti adalah 230,93% dan kelompok Meranti adalah 69,07%.
  •    Semai, untuk kelompok Non-Meranti adalah 153,16% dan kelompok Meranti adalah 46,84%


Namun demikian, tidak nyata korelasi antara kelerengan dengan INP jenis pada berbagai level pertumbuhan, kecuali untuk jenis Meranti terdapat korelasi antara kelas kelerengan dengan INP di tingkat Semai dan Pancang.  Indeks keragaman jenis tertinggi di tingkat Semai adalah jenis Eucaliptosis papuana CT, Pancang adalah jenis Meranti, Tiang adalah Canarium spp dan Pohon didominasi Meranti.


Secara umum dapat dikatakan indeks keragaman jenis tergolong sedang sampai tinggi. Kekayaan jenis yang tinggi di tingkat Semai adalah Shorea selanica, tingkat Pancang tidak ada jenis dengan indeks Margalef yang tinggi.  Pada tingkat Tiang terdapat 2 (dua) jenis dengan indeks yang tergolong tinggi yakni Callophyllum sp dan Shorea selanica dan di tingkat Pohon terdapat 3 (tiga) jenis dengan indeks yang tergolong tinggi yakni Castanopsis buruana Mig.,  Eucaliptosis papuana dan Shorea selanica.