Sertifikat_PHPL_GHL.jpg

Google Ads 3

P.1 Tahun 2020 Tentang

Berikut di bawah ini adalah update Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Tahun 2021 yang menjadi acuan kegiatan pengelolaan hutan alam PT Gema Hutani Lestari  yaitu :

  1. PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2021 TENTANG TATA CARA DAN PERSYARATAN PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN.  Klik disini untuk download

 

 

Bentang Alam Hutan Utuh (Intact Forest Landscape-IFL)

 

Secara teknis, Bentang Hutan Utuh (IFL) didefinisikan sebagai wilayah dalam cakupan hutan global saat ini yang mengandung ekosistem hutan dan non-hutan yang secara minimal dipengaruhi oleh aktivitas ekonomi manusia, dengan luas setidaknya 500 km2 (50.000 ha) dan lebar minimal 10 km (diukur sebagai diameter lingkaran yang seluruhnya ditorehkan dalam batas-batas wilayah).  Sedangkan areal yang merupakan hasil kegiatan manusia tertentu dianggap terganggu dan akibatnya tidak memenuhi syarat untuk dimasukkan dalam IFL seperti:

  • Permukiman (termasuk zona penyangga 1 km);
  • Infrastruktur yang digunakan untuk transportasi antar permukiman atau untuk pengembangan industri sumber daya alam, termasuk jalan (kecuali jalur yang tidak beraspal), kereta api, jalur air yang dapat dilalui (termasuk pantai), jaringan pipa, dan saluran transmisi listrik (termasuk dalam semua kasus zona penyangga 1 km di kedua sisi);
  • Pertanian dan produksi kayu;
  • Kegiatan industri selama 30-70 tahun terakhir, seperti penebangan, penambangan, eksplorasi dan ekstraksi minyak dan gas, ekstraksi gambut, dll.

Pulau Buru di mana lokasi konsesi PT GHL berada memiliki lokasi bentang hutan utuh (IFL) yaitu daerah yang saat ini tumpeng tindih-overlap dengan Hutan Lindung Kepala Mada yang ada di antara konsesi PT GHL (lihat Gambar 1) dan sebagian masuk kawasan konsesi PT Gema Hutani Lestari (PT GHL).  Luas bentangan hutan alam ini seluas 108.456 hektar dimana seluas 12.665 hektar masuk ke dalam konsesi PT GHL.  Dari areal seluas 12.665 hektar tersebut yang masuk konsesi PT GHL seluas 2.799 hektar diantaranya adalah kawasan inti (NKT 2.1) yang berfungsi untuk menjaga proses dan dinamika ekologi secara alami berlangsung dan berpotensi untuk tetap berjalan dalam jangka panjang di masa mendatang.   

Kunci utama dari pendekatan ini adalah untuk mengidentifikasi dan melindungi daerah inti (core area) dari lansekap, yang didefinisikan sebagai areal yang dicadangkan/diperlukan untuk menjamin bahwa proses ekologi alami dapat berlangsung tanpa gangguan akibat fragmentasi dan pengaruh daerah bukaan (edge effect). Daerah inti ditentukan berdasarkan ukurannya (>20.000 ha) ditambah dengan daerah penyangga (buffer) yang ada di sekitarnya yaitu paling sedikit tiga (3) km dari daerah bukaan.

 

 

Gambar 1.  Overlay Areal Kerja PT GHL dengan Intact Forest Landscape di  Pulau Buru, Maluku

 

 

 

Kegiatan pemantauan dilakukan untuk memenuhi permintaan standar FSC® yaitu sebagaimana Kriteria FSC 9.4 dimana disebutkan bahwa pemantauan tahunan harus dilaksanakan untuk menilai efektifitas dari tindakan-tindakan yang diterapkan untuk memelihara atau meningkatkan sifat-sifat konservasi yang ada.  Parameter yang dipantau merupakan kawasan lindung (menurut Dokumen RKL/RPL) sekaligus merupakan teridentifikasi Kawasan Bernilai Konservasi Tinggi (KBKT)/Nilai Konservasi Tinggii (NKT) menurut hasil Penilaian Konservasi Tinggi (Full High Conservation Value Assessment) di areal konsesi PT Gema Hutani Lestari.   Progress hasil pemantauan untuk setiap parameter yang dipantau yang dapat diperbandingkan hasil pemantauannya dari tahun ke tahun dapat dilihat pada menu HCVF Sub Menu ARCHIVE PEMANTAUAN HCV.

Kegiatan pemantauan HCV yang telah dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya disimpan pada Sub Menu Arsip Pemantauan HCV yang dapat dilihat mulai dari tahun 2013, 2014, 2015, 2016. 2017 dan 2018

Upaya meningkatkan kualitas NKT pada dasarnya adalah menjaga atribut Nilai Konservasi Tinggi yaitu terjaganya keberadaan habitat berkembang biak satwa NKT 1.2 dan 1.3, pohon pakan satwa NKT 1.2 dan 1.3 serta konektifitas antar bagian hutan sehingga pergerakan satwa NKT 1.2 dan 1.3 menuju kawasan lindung dan Hutan Lindung tidak terganggu.

Substansi dari ketiga hal tersebut adalah bagaimana PT Gema Hutani Lestari menjaga agar kawasan hutannya tidak terfragmentasi baik karena kegiatan perusahaan maupun karena aktifitas perladangan/perambahan hutan yang dilakukan oleh masyarakat lokal setempat yaitu melalui kegiatan penanaman tanah kosong dan penanaman pengayaan. Penanaman tanah kosong dilakukan jika terjadi kerusakan pada areal hutan NKT 1.1 s/d NKT 6 dan bila kondisi hutannya baik maka dilakukan penanaman pengayaan dengan tujuan untuk menjaga keberadaan dan meningkatakan kualitas habitat berkembang biak satwa dan pakan satwa NKT 1.2 dan 1.3 serta menjaga konektifitas hutan untuk mendukung pergerakan satwa NKT 1.2 dan NKT 1.3 menuju kawasan konservasi (Buffer Zone Hutan Lindung Kepala Mada, Hutan Lindung Kepala Mada, KPPN, dll).  Karena dengan terjaganya penutupan hutan (tidak terfragmentasi) maka fungsi menjaga keberadaan NKT 1 sampai NKT 6 dapat berfungsi dengan baik. 

Untuk melihat upaya meningkatkan kualitas NKT 1 s/d NKT 6  yang telah dilakukan PT Gema Hutani Lestari  Tahun 2019  Klik Disini