Sertifikat_PHPL_GHL.jpg

Google Ads 3

Kegiatan pemantauan dilakukan untuk memenuhi permintaan standar FSC® yaitu sebagaimana Kriteria FSC 9.4 dimana disebutkan bahwa pemantauan tahunan harus dilaksanakan untuk menilai efektifitas dari tindakan-tindakan yang diterapkan untuk memelihara atau meningkatkan sifat-sifat konservasi yang ada.  Parameter yang dipantau merupakan kawasan lindung (menurut Dokumen RKL/RPL) sekaligus merupakan teridentifikasi Kawasan Bernilai Konservasi Tinggi (KBKT)/Nilai Konservasi Tinggii (NKT) menurut hasil Penilaian Konservasi Tinggi (Full High Conservation Value Assessment) di areal konsesi PT Gema Hutani Lestari.   Progress hasil pemantauan untuk setiap parameter yang dipantau yang dapat diperbandingkan hasil pemantauannya dari tahun ke tahun dapat dilihat pada menu HCVF Sub Menu ARCHIVE PEMANTAUAN HCV.

Kegiatan pemantauan HCV yang telah dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya disimpan pada Sub Menu Arsip Pemantauan HCV yang dapat dilihat mulai dari tahun 2013, 2014, 2015, 2016. 2017 dan 2018

Bentang Alam Hutan Utuh (Intact Forest Landscape-IFL)

 

Secara teknis, Bentang Hutan Utuh (IFL) didefinisikan sebagai wilayah dalam cakupan hutan global saat ini yang mengandung ekosistem hutan dan non-hutan yang secara minimal dipengaruhi oleh aktivitas ekonomi manusia, dengan luas setidaknya 500 km2 (50.000 ha) dan lebar minimal 10 km (diukur sebagai diameter lingkaran yang seluruhnya ditorehkan dalam batas-batas wilayah).  Sedangkan areal yang merupakan hasil kegiatan manusia tertentu dianggap terganggu dan akibatnya tidak memenuhi syarat untuk dimasukkan dalam IFL seperti:

  • Permukiman (termasuk zona penyangga 1 km);
  • Infrastruktur yang digunakan untuk transportasi antar permukiman atau untuk pengembangan industri sumber daya alam, termasuk jalan (kecuali jalur yang tidak beraspal), kereta api, jalur air yang dapat dilalui (termasuk pantai), jaringan pipa, dan saluran transmisi listrik (termasuk dalam semua kasus zona penyangga 1 km di kedua sisi);
  • Pertanian dan produksi kayu;
  • Kegiatan industri selama 30-70 tahun terakhir, seperti penebangan, penambangan, eksplorasi dan ekstraksi minyak dan gas, ekstraksi gambut, dll.

Pulau Buru di mana lokasi konsesi PT GHL berada memiliki lokasi bentang hutan utuh (IFL) yaitu daerah yang saat ini tumpeng tindih-overlap dengan Hutan Lindung Kepala Mada yang ada di antara konsesi PT GHL (lihat Gambar 1) dan sebagian masuk kawasan konsesi PT Gema Hutani Lestari (PT GHL).  Luas bentangan hutan alam ini seluas 108.456 hektar dimana seluas 12.665 hektar masuk ke dalam konsesi PT GHL.  Dari areal seluas 12.665 hektar tersebut yang masuk konsesi PT GHL seluas 2.799 hektar diantaranya adalah kawasan inti (NKT 2.1) yang berfungsi untuk menjaga proses dan dinamika ekologi secara alami berlangsung dan berpotensi untuk tetap berjalan dalam jangka panjang di masa mendatang.   

Kunci utama dari pendekatan ini adalah untuk mengidentifikasi dan melindungi daerah inti (core area) dari lansekap, yang didefinisikan sebagai areal yang dicadangkan/diperlukan untuk menjamin bahwa proses ekologi alami dapat berlangsung tanpa gangguan akibat fragmentasi dan pengaruh daerah bukaan (edge effect). Daerah inti ditentukan berdasarkan ukurannya (>20.000 ha) ditambah dengan daerah penyangga (buffer) yang ada di sekitarnya yaitu paling sedikit tiga (3) km dari daerah bukaan.

 

 

Gambar 1.  Overlay Areal Kerja PT GHL dengan Intact Forest Landscape di  Pulau Buru, Maluku

 

 

 

Tabel 1. Realisasi Progres Pelaksanaan Kegiatan Pemantauan Jangka Pendek / Per Tahun HCV/NKT PT Gema Hutani Lestari.

 

No.

Parameter yg Dipantau

Indikator yg Dipantau

Tolok Ukur

Metoda

2015

1.

 Areal Lereng >40% (Kawasan Bernilai Konservasi Tinggi 4.2)

a.

Tanda Batas

Tanda cat merah melingkar pada pohon dan rintisan.

Tanda pada pohon setiap 25-50 meter dan rintisan selebar 2 meter.

Pengamatan pada waktu patroli.

Berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan tanda batas areal lereng >40% lokasi Waili berupa cat merah pada pohon dan rintisan pada setiap 25-50 meter dan rintisan selebar 2 meter masih ada dan terlihat jelas di lapangan.

b.

Papan-papan Himbauan

Pemasangan papan-papan himbauan.

Minimal 1 unit di setiap Areal lereng >40% menghadap ke jalan.

Pengamatan pada waktu patroli.

Berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan terdapat 1 unit papan himbauan dilarang menebang di areal lereng >40% Waeli masih ada terpasang menghadap ke jalan.

c.

Vegetasi Hutan

Penanaman tanah kosong

Jarak tanam 5 meter pada jalur berjarak8 meter

Pengamatan pada penyulaman dan 3 bulan setelah penanaman

Berdasarkan hasil pemantauan tidak terdapat Tanah kosong pada areal lereng >40% Waeli sehingga tidak dilakukan kegiatan penanaman Tanah kosong.

d.

Kerusakan

Tanda-tanda kerusakan dan penebangan pohon

Tidak ada penebangan pohon dalam areal lereng >40%.

Pengamatan pada waktu patroli.

Tidak ada tanda-tanda kerusakan dan/atau penebangan pohon pada areal lereng >40% Waili.

2.

 Sempadan Sungai (yang merupakan sebagian dari Kawasan Bernilai Konservasi Tinggi 4.1)

a.

Tata Batas

Tanda cat merah melingkar pada pohon dan rintisan

Tanda pada pohon setiap 25-50 meter dan rintisan selebar 2 meter.

Pengamatan pada waktu patroli.

Berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan tanda batas batas pada Sempadan Sungai Waebebek (Blok Utara) dan Siopot (Blok Selatan) berupa cat merah melingkar pohon dan rintisan pada setiap pohon 25-50 meter dengan lebar rintisan 2 meter masih ada dan terlihat jelas di lapangan.

b.

Papan-papan himbauan

Pemasangan papan-papan himbauan.

Minimal 1 unit di setiap Sempadan Sungai menghadap ke jalan.

Pengamatau pada waktu patroli.

Berdasarkan hasil pemantauan yg dilakukan terdapat 1 unit papan himbauan di Sempadan Sungai Waebebek (Blok Utara) dan Siopot (Blok Selatan) terpasang menghadap ke jalan.

c.

Vegetasi Hutan.

Penanaman Tanah kosong.

Jarak tam 5 meter pada jalur berjarak 8 meter.

Pengamatan pada penyulaman 3 bulan setelah penanaman.

Tidak dijumpai adanya tanah kosong pada areal Sempadan Sungai Waebebek (Blok Utara) dan Siopot (Blok Selatan), sehingga kegiatan penanaman Tanah kosong tidak dilakukan.

d.

Kerusakan

Tanda-tanda kerusakan dan penebangan pohon.

Tidak adanya penebangan pohon sempadan sungai.

Pengamatan pada waktu patroli.

Tidak dijumpai adanya tanda-tanda kerusakan dan/atau penebangan pohon di Sempadan Sungai Waebebek (Blok Utara) dan Siopot (Blok Selatan).

e.

Kualitas Air Sungai

Sedimentasi

Tingkat sedimentasi maksimum 10%.

Pengamatan dan sampling botol kaca.

Berdasarkan hasil Uji Sampel Air Sungai Waelanga Hulu dan Sungai Waelanga Hulir dari Lab Balai Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Kelas II Ambon dari 3 Parameter Fisika dan 16 Parameter Kimia berada dalam ambang batas yang diizinkan.

3.

 Buffer Zone Hutan Lindung (yang merupakan Kawasan Pengelolaan Nilai Konservasi Tinggi 1.1)

a.

Tanda Batas

Tanda cat merah melingkar pohon dan rintisan.

Tanda pada pohon setiap 25-50 metere dan rintisan selebar 2 meter

Pengamatan pada waktu patroli

Berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan pada Buffer Zone HL disektar Waelanga Waebebek tanda cat merah melingkar pohon dan rintisan pada setiap 25-50 meter dengan lebar 2 meter masih ada terlihat jelas di lapangan.

b.

Papan-papan Himbauan.

Pemasangan papan-papan himbauan.

Minimal 1 unit di setiap kawasan Buffer Zone HL menghadap ke jalan.

Pengamatan pada waktu patroli.

Berdasarkan hasil pemantauan yg dilakukan terdapat 1 buah papan himbauan yg terpasang menghadap ke jalan.

c.

Vegetasi Hutan

Penanaman Tanah kosong.

Jarak tanam 5 meter pada jalur berjarak8 meter.

Pengamatan pada penyulaman dan 3 bulan setelah penanaman.

Tidak dijumpai adanya tanah kosong pada Buffer Zone HL di Waelanga Waebebk sehingga tidak dilakukan kegiatan penanaman tanah kosong.

d.

Kerusakan

Tanda-tanda kerusakan dan penebangan pohon.

Tidak adanya penebangan pohon dalam Buffer Zone Hutan Lindung.

Pengamatan pada waktu patroli.

Tidak terrdapat tanda-tanda kerusakan dan/atau penebangan pohon dalam Buffer Zone HL sekitar Waelanga Waebebek.

e.

Pos-pos Jaga

Pembangunan pos-pos jaga.

Minimal 1 unit di setiap Buffer Zone HL menghadap ke jalan.

Pengamatan pada waktu patroli.

Pos jaga 1 unit di pintu masuk menuju areal kerja PT GHL.

4.

 Kawasan Pelestarian Plasma Nutfah (Kawasan Bernilai Konservasi Tinggi 1.2 dan 1.3)

a.

Tanda Batas

Tanda cat merah melingkar pada pohon dan rintisan.

Tanda pada pohon setiap 25-50 meter dan rintisan selebar 2 meter.

Pengamatan pada waktu patrol.

Berdasarkan hasil pemantauan pada areal KPPN lokasi Waeli, tanda cat merah dan rintisan pada batas setiap 25-50 meter dengan lebar rintisan 2 meter ada dijumpai dan terlihat di lapangan.

b.

Papan-papan Himbauan

Pemasangan papan-papan himbauan.

Minimal 1 unit di setiap Kawasan Pelestarian Plasma Nutfah menghadap ke jalan.

Pengamatan pada waktu patroli.

Papan nama Areal KPPN Waeli ada dijumpai di lapangan menghadap ke jalan.

c.

Vegetasi Hutan

Penanaman tanah kosong.

jarak tanam 5 meter pada jalur berjarak8 meter.

Pengamatan pada waktu patroli.

Tidak dijumpai adanya tanah kosong pada areal KPPN lokasi Waeli, sehingga tidak dilakukan penanaman Tanah kosong.

5.

Daerah Aliran Sungai (DAS) yang Dimanfaatkan Masyarakat Setempat (Sebagian dari Kawasan Bernilai Konservasi Tinggi 4.1 dan Kawasan Bernilai Konservasi Tinggi 5).

a.

Tanda Batas

Cat merah melingkar pohon dan rintisan.

Tanda pada pohon setiap 25-50 meter dan rintisan selebar 2 meter.

Pengamatan pada waktu patroli.

Berdasarkan hasil pemantauan pada Das/Sub-Das Waelanga dan Waeli dijumpai tanda batas cat merah pada pohon pada jarak setiap 25-50 meter.

b.

Papan-papan Himbauan.

Pemasangan papan-papan himbauan.

Minimal 1 unit di setiap DAS/SUB-DAS menghadap ke jalan.

Pengamatan pada waktu patroli.

Berdasarkan pemantauan yg dilakukan dijumpai papan himbauan 2 buah terpasang menghadap ke jalan.

c

Vegetasi Hutan

Tanda-tanda kerusakan dan penebangan pohon.

Tidak adanya penebangan pohon dalam SUB-DAS yang dimanfaatkan masyarakat.

Pengamatan pada waktu patroli.

Berdasarkan pemantauan yg dilakukan pada Das/Sub-Das Waelanga dan Waeidakli tidak terdapat tanah kosong sehingga tidak dilakukan kegiatan penanaman Tanah kosong.

6.

 Kawasan Sekat Bakar Alami (yang Merupakan Kawasan Bernilai Konservasi Tinggi 4.3)

a.

Tanda Batas

Tanda-tanda kerusakan dan penebangan pohon.

Tanda pada pohon setiap 25-50 meter.

Pengamatan pada waktu patroli.

Tanda batas sekat bakar alami dijumpai pada pohon setiap 25-50 meter.

b.

Kerusakan

Tanda-tanda kerusakan dan penebangan pohon.

Tidak adanya penebangan pohon dalam zona sekat bakar alami selebar 100 meter dari tepi hutan.

Pengamatan pada waktu patroli.

Tidak dijumpai tanda-tanda kerusakan dan/atau penebangan dalam zona sekat bakar alami selebar 100 meten.r dari tepi hutan

7.

Kesadaran Masyarakat dan Konservasi Atas Species yang Sangat Terancam Punah dalam Konsesi (Pemantauan Nilai Konservasi Tinggi 1.2 dan 1.3)

a.

Perburuan Jenis Dilindungi oleh Masyarakat.

Kesadaran masyarakat terhadap jenis dilindungi.

0% kegiatan penangkapan (bukti senjata atau jerat, perangkap) oleh Satpam Pengamanan Hutan.

Wawancara dengan berbagai lapisan masyarakat di areal kerja GHL.

Tidak ditemukan masyarakat yang tertangkap tangan pada saat pemantauan dilakukan membuat jerat dan perangkap perburuan jenis satwa liar NKT 1.2 dan NKT 1.3 dan dilindungi.

8.

Larangan Perburuan/Menjebak Satwa Liar Asli Kepada Staf PT GHL (Pemantauan Nilai Konservasi Tinggi 1.2 dan 1.3)

a.

Perburuan jenis dilindungi oleh Staf PT Gema Hutani Lestari.

Kesadaran karyawan PT GHL terhadap jenis dilindungi.

0% kegiatan penangkapan (bukti senjata atau jerat, perangkap) oleh Staf PT GHL.

Survei logging camp, base camp dan lokasi yang yang dikenal sebagai tempat perrburuan.

 Wawancara Staf PT GHL dan masyarakat sekitar hutan.

Berdasarkan hasil pemantauan yg dilakukan pada camp produksi di gunung dan camp induk serta logpond tidak dijumpai adanya karyawan PT GHL yg tertangkap tangan membuat jerat/perangkap, memiliki senjata/senapan untuk berburu terhadap satwa liar NKT 1.2 dan NKT 1.3 serta dilindungi.

9.

 Kerusakan Terhadap Pohon Sarang

a.

Kerusakan terhadap pohon sarang.

Tanda-tanda kerusakan dan penebangan pohon.

0% penebangan pohon sarang dan dalam 25 meter areal penyangga.

Pengamatan pada waktu ITSP.

Berdasarkan hasil pemantauan Pohon Sarang berlokasi di Waedea dijumpai identifikasi pohon sarang berupa Papan Nama, pemasangan papan himbauan larangan mengganggu pohon sarang dalam radius 25 meter, tidak dijumpai adanya tanda-kerusakan dan/atau penebangan pohon dalam radius 25 meter.

10.

 Pengamanan dan Fragmentasi Hutan (Pemantauan NKT 2.1)

a.

Pengamanan kawasan hutan dan fragmentasi hutan.

Penutupan hutan dan penebangan hutan, sarana prasarana dan kebakaran.

0% pengurangan luas areal hutan, zona inti dan zona penyangga NKT 2.1

Penafsiran citra satelit dan pemeriksaan silang di lapangan.

Tidak ada pengurangan luas hutan, zona inti dan zona penyangga NKT 2.1 dalam areal kerja PT GHL.

11.

Larangan Alat Berat Dalam Wilayah Sempadan Sungai Kecil dan Hutan Rawa untuk Mempertahankan Fungsi Hidrologis (Pemantauan NKT 4.1 dan 3)

a.

Larangan alat berat dalam wilayah sempadan sungai kecil dan hutan rawa.

Tanda-tanda alat berat didalam sempadan sungai kecil dan hutan rawa.

0% pemanfaatan alat berat didalam sempadan sungai kecil dan hutan rawa.

Survei lapangan sempadan sungai kecil dan hutan rawa.

Berdasarkan pemantauan yg dilakukan tidak dijumpai tanda-tanda alat berat di dalam sempadan sungai kecil dan hutan rawa.

12.

 Deaktivasi Jalan

a.

Dampak lingkungan dari jalan pasca pemanenan.

Tanda-tanda erosi disebabkan jalan sarad.

100% jalan sarad di deaktivasi setelah kegiatan pemanenan.

Survey rutin di areal RKT pasca penyaradan.

Berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan pada areal bekas jalan sarad/cabang dijumpai adanya pembuatan sudetan untuk meminimalisir terjadinya erosi.

13.

 Kegiatan Pemanenan Di Sekitar Desa(Pemantantauan Nilai Konservasi Tinggi 5).

a.

Dampak terhadap kebutuhan dasar masyarakat.

Tanda-tanda kegiatan penebangan di NKT 5 di sekitar desa oleh PT GHL

0% pemanfaatan di daerah NKT 5 yang disepakati masyarakat.

Pengamatan pada waktu patroli dan laporan dari masyarakat.

Berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan tidak dijumpai adanya aktifitas penebangan di daerah NKT 5.

14.

 Kegiatan Pemanenan di Kawasan Budaya dan Sekitar Situs Budaya (Pemantauan Nilai Konservasi Tinggi 6)

a.

Dampak terhadap kawasan budaya dan situs budaya masyarakat.

Tanda-tanda kegiatan penebangan di NKT 6 yang disepakati masyarakat.

0% pemanfaatan di daerah "Cagar Budaya" NKT 6 yang disepakati masyarakat.100% pelaksanaan Reduced Impact Logging (RIL) di kawasan yang boleh dikelola dengan kesepakatan masyarakat

Pengamatan pada waktu patroli dan laporan dari masyarakat.

Berdasarkan hasil pemantauan yg dilakukan tidak dijumpai aktifitas perusahaan di daerah/sekitar NKT 6.

Upaya meningkatkan kualitas NKT pada dasarnya adalah menjaga atribut Nilai Konservasi Tinggi yaitu terjaganya keberadaan habitat berkembang biak satwa NKT 1.2 dan 1.3, pohon pakan satwa NKT 1.2 dan 1.3 serta konektifitas antar bagian hutan sehingga pergerakan satwa NKT 1.2 dan 1.3 menuju kawasan lindung dan Hutan Lindung tidak terganggu.

Substansi dari ketiga hal tersebut adalah bagaimana PT Gema Hutani Lestari menjaga agar kawasan hutannya tidak terfragmentasi baik karena kegiatan perusahaan maupun karena aktifitas perladangan/perambahan hutan yang dilakukan oleh masyarakat lokal setempat yaitu melalui kegiatan penanaman tanah kosong dan penanaman pengayaan. Penanaman tanah kosong dilakukan jika terjadi kerusakan pada areal hutan NKT 1.1 s/d NKT 6 dan bila kondisi hutannya baik maka dilakukan penanaman pengayaan dengan tujuan untuk menjaga keberadaan dan meningkatakan kualitas habitat berkembang biak satwa dan pakan satwa NKT 1.2 dan 1.3 serta menjaga konektifitas hutan untuk mendukung pergerakan satwa NKT 1.2 dan NKT 1.3 menuju kawasan konservasi (Buffer Zone Hutan Lindung Kepala Mada, Hutan Lindung Kepala Mada, KPPN, dll).  Karena dengan terjaganya penutupan hutan (tidak terfragmentasi) maka fungsi menjaga keberadaan NKT 1 sampai NKT 6 dapat berfungsi dengan baik. 

Untuk melihat upaya meningkatkan kualitas NKT 1 s/d NKT 6  yang telah dilakukan PT Gema Hutani Lestari  Tahun 2019  Klik Disini

 

 

Tabel 1. Realisasi Progres Pelaksanaan Kegiatan Pemantauan Jangka Pendek / Per Tahun HCV/NKT PT Gema Hutani Lestari.

 

No.

Parameter yg Dipantau

Indikator yg Dipantau

Tolok Ukur

Metoda

2016

1.

 Areal Lereng >40% (Kawasan Bernilai Konservasi Tinggi 4.2)

a.

Tanda Batas

Tanda cat merah melingkar pada pohon dan rintisan.

Tanda pada pohon setiap 25-50 meter dan rintisan selebar 2 meter.

Pengamatan pada waktu patroli.

Berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan tanda batas areal lereng >40% lokasi Waili berupa cat merah pada pohon dan rintisan pada setiap 25-50 meter dan rintisan selebar 2 meter masih ada dan terlihat jelas di lapangan.

b.

Papan-papan Himbauan

Pemasangan papan-papan himbauan.

Minimal 1 unit di setiap Areal lereng >40% menghadap ke jalan.

Pengamatan pada waktu patroli.

Berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan terdapat 1 unit papan himbauan dilarang menebang di areal lereng >40% Waeli masih ada terpasang menghadap ke jalan.

c.

Vegetasi Hutan

Penanaman tanah kosong

Jarak tanam 5 meter pada jalur berjarak8 meter

Pengamatan pada penyulaman dan 3 bulan setelah penanaman

Berdasarkan hasil pemantauan tidak terdapat Tanah kosong pada areal lereng >40% Waeli sehingga tidak dilakukan kegiatan penanaman Tanah kosong.

d.

Kerusakan

Tanda-tanda kerusakan dan penebangan pohon

Tidak ada penebangan pohon dalam areal lereng >40%.

Pengamatan pada waktu patroli.

Tidak ada tanda-tanda kerusakan dan/atau penebangan pohon pada areal lereng >40% Waili.

2.

 Sempadan Sungai (yang merupakan sebagian dari Kawasan Bernilai Konservasi Tinggi 4.1)

a.

Tata Batas

Tanda cat merah melingkar pada pohon dan rintisan

Tanda pada pohon setiap 25-50 meter dan rintisan selebar 2 meter.

Pengamatan pada waktu patroli.

Berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan tanda batas batas pada Sempadan Sungai Waebebek (Blok Utara) dan Siopot (Blok Selatan) berupa cat merah melingkar pohon dan rintisan pada setiap pohon 25-50 meter dengan lebar rintisan 2 meter masih ada dan terlihat jelas di lapangan.

b.

Papan-papan himbauan

Pemasangan papan-papan himbauan.

Minimal 1 unit di setiap Sempadan Sungai menghadap ke jalan.

Pengamatau pada waktu patroli.

Berdasarkan hasil pemantauan yg dilakukan terdapat 1 unit papan himbauan di Sempadan Sungai Waebebek (Blok Utara) dan Siopot (Blok Selatan) terpasang menghadap ke jalan.

c.

Vegetasi Hutan.

Penanaman Tanah kosong.

Jarak tam 5 meter pada jalur berjarak 8 meter.

Pengamatan pada penyulaman 3 bulan setelah penanaman.

Tidak dijumpai adanya tanah kosong pada areal Sempadan Sungai Waebebek (Blok Utara) dan Siopot (Blok Selatan), sehingga kegiatan penanaman Tanah kosong tidak dilakukan.

d.

Kerusakan

Tanda-tanda kerusakan dan penebangan pohon.

Tidak adanya penebangan pohon sempadan sungai.

Pengamatan pada waktu patroli.

Tidak dijumpai adanya tanda-tanda kerusakan dan/atau penebangan pohon di Sempadan Sungai Waebebek (Blok Utara) dan Siopot (Blok Selatan).

e.

Kualitas Air Sungai

Sedimentasi

Tingkat sedimentasi maksimum 10%.

Pengamatan dan sampling botol kaca.

Berdasarkan hasil Uji Sampel Air Sungai Waelanga Hulu dan Sungai Waelanga Hulir dari Lab Balai Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Kelas II Ambon dari 3 Parameter Fisika dan 16 Parameter Kimia berada dalam ambang batas yang diizinkan.

3.

 Buffer Zone Hutan Lindung (yang merupakan Kawasan Pengelolaan Nilai Konservasi Tinggi 1.1)

a.

Tanda Batas

Tanda cat merah melingkar pohon dan rintisan.

Tanda pada pohon setiap 25-50 metere dan rintisan selebar 2 meter

Pengamatan pada waktu patroli

Berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan pada Buffer Zone HL disektar Waelanga Waebebek tanda cat merah melingkar pohon dan rintisan pada setiap 25-50 meter dengan lebar 2 meter masih ada terlihat jelas di lapangan.

b.

Papan-papan Himbauan.

Pemasangan papan-papan himbauan.

Minimal 1 unit di setiap kawasan Buffer Zone HL menghadap ke jalan.

Pengamatan pada waktu patroli.

Berdasarkan hasil pemantauan yg dilakukan terdapat 1 buah papan himbauan yg terpasang menghadap ke jalan.

c.

Vegetasi Hutan

Penanaman Tanah kosong.

Jarak tanam 5 meter pada jalur berjarak8 meter.

Pengamatan pada penyulaman dan 3 bulan setelah penanaman.

Tidak dijumpai adanya tanah kosong pada Buffer Zone HL di Waelanga Waebebk sehingga tidak dilakukan kegiatan penanaman tanah kosong.

d.

Kerusakan

Tanda-tanda kerusakan dan penebangan pohon.

Tidak adanya penebangan pohon dalam Buffer Zone Hutan Lindung.

Pengamatan pada waktu patroli.

Tidak terrdapat tanda-tanda kerusakan dan/atau penebangan pohon dalam Buffer Zone HL sekitar Waelanga Waebebek.

e.

Pos-pos Jaga

Pembangunan pos-pos jaga.

Minimal 1 unit di setiap Buffer Zone HL menghadap ke jalan.

Pengamatan pada waktu patroli.

Pos jaga 1 unit di pintu masuk menuju areal kerja PT GHL.

4.

 Kawasan Pelestarian Plasma Nutfah (Kawasan Bernilai Konservasi Tinggi 1.2 dan 1.3)

a.

Tanda Batas

Tanda cat merah melingkar pada pohon dan rintisan.

Tanda pada pohon setiap 25-50 meter dan rintisan selebar 2 meter.

Pengamatan pada waktu patrol.

Berdasarkan hasil pemantauan pada areal KPPN lokasi Waeli, tanda cat merah dan rintisan pada batas setiap 25-50 meter dengan lebar rintisan 2 meter ada dijumpai dan terlihat di lapangan.

b.

Papan-papan Himbauan

Pemasangan papan-papan himbauan.

Minimal 1 unit di setiap Kawasan Pelestarian Plasma Nutfah menghadap ke jalan.

Pengamatan pada waktu patroli.

Papan nama Areal KPPN Waeli ada dijumpai di lapangan menghadap ke jalan.

c.

Vegetasi Hutan

Penanaman tanah kosong.

jarak tanam 5 meter pada jalur berjarak8 meter.

Pengamatan pada waktu patroli.

Tidak dijumpai adanya tanah kosong pada areal KPPN lokasi Waeli, sehingga tidak dilakukan penanaman Tanah kosong.

5.

Daerah Aliran Sungai (DAS) yang Dimanfaatkan Masyarakat Setempat (Sebagian dari Kawasan Bernilai Konservasi Tinggi 4.1 dan Kawasan Bernilai Konservasi Tinggi 5).

a.

Tanda Batas

Cat merah melingkar pohon dan rintisan.

Tanda pada pohon setiap 25-50 meter dan rintisan selebar 2 meter.

Pengamatan pada waktu patroli.

Berdasarkan hasil pemantauan pada Das/Sub-Das Waelanga dan Waeli dijumpai tanda batas cat merah pada pohon pada jarak setiap 25-50 meter.

b.

Papan-papan Himbauan.

Pemasangan papan-papan himbauan.

Minimal 1 unit di setiap DAS/SUB-DAS menghadap ke jalan.

Pengamatan pada waktu patroli.

Berdasarkan pemantauan yg dilakukan dijumpai papan himbauan 2 buah terpasang menghadap ke jalan.

c

Vegetasi Hutan

Tanda-tanda kerusakan dan penebangan pohon.

Tidak adanya penebangan pohon dalam SUB-DAS yang dimanfaatkan masyarakat.

Pengamatan pada waktu patroli.

Berdasarkan pemantauan yg dilakukan pada Das/Sub-Das Waelanga dan Waeidakli tidak terdapat tanah kosong sehingga tidak dilakukan kegiatan penanaman Tanah kosong.

6.

 Kawasan Sekat Bakar Alami (yang Merupakan Kawasan Bernilai Konservasi Tinggi 4.3)

a.

Tanda Batas

Tanda-tanda kerusakan dan penebangan pohon.

Tanda pada pohon setiap 25-50 meter.

Pengamatan pada waktu patroli.

Tanda batas sekat bakar alami dijumpai pada pohon setiap 25-50 meter.

b.

Kerusakan

Tanda-tanda kerusakan dan penebangan pohon.

Tidak adanya penebangan pohon dalam zona sekat bakar alami selebar 100 meter dari tepi hutan.

Pengamatan pada waktu patroli.

Tidak dijumpai tanda-tanda kerusakan dan/atau penebangan dalam zona sekat bakar alami selebar 100 meten.r dari tepi hutan

7.

 Kesadaran Masyarakat dan Konservasi Atas Species yang Sangat Terancam Punah dalam Konsesi (Pemantauan Nilai Konservasi Tinggi 1.2 dan 1.3)

a.

Perburuan Jenis Dilindungi oleh Masyarakat.

Kesadaran masyarakat terhadap jenis dilindungi.

0% kegiatan penangkapan (bukti senjata atau jerat, perangkap) oleh Satpam Pengamanan Hutan.

Wawancara dengan berbagai lapisan masyarakat di areal kerja GHL.

Tidak ditemukan masyarakat yang tertangkap tangan pada saat pemantauan dilakukan membuat jerat dan perangkap perburuan jenis satwa liar NKT 1.2 dan NKT 1.3 dan dilindungi.

8.

Larangan Perburuan/Menjebak Satwa Liar Asli Kepada Staf PT GHL (Pemantauan Nilai Konservasi Tinggi 1.2 dan 1.3)

a.

Perburuan jenis dilindungi oleh Staf PT Gema Hutani Lestari.

Kesadaran karyawan PT GHL terhadap jenis dilindungi.

0% kegiatan penangkapan (bukti senjata atau jerat, perangkap) oleh Staf PT GHL.

Survei logging camp, base camp dan lokasi yang yang dikenal sebagai tempat perrburuan.

 Wawancara Staf PT GHL dan masyarakat sekitar hutan.

Berdasarkan hasil pemantauan yg dilakukan pada camp produksi di gunung dan camp induk serta logpond tidak dijumpai adanya karyawan PT GHL yg tertangkap tangan membuat jerat/perangkap, memiliki senjata/senapan untuk berburu terhadap satwa liar NKT 1.2 dan NKT 1.3 serta dilindungi.

9.

 Kerusakan Terhadap Pohon Sarang

a.

Kerusakan terhadap pohon sarang.

Tanda-tanda kerusakan dan penebangan pohon.

0% penebangan pohon sarang dan dalam 25 meter areal penyangga.

Pengamatan pada waktu ITSP.

Berdasarkan hasil pemantauan Pohon Sarang berlokasi di Waedea dijumpai identifikasi pohon sarang berupa Papan Nama, pemasangan papan himbauan larangan mengganggu pohon sarang dalam radius 25 meter, tidak dijumpai adanya tanda-kerusakan dan/atau penebangan pohon dalam radius 25 meter.

10.

 Pengamanan dan Fragmentasi Hutan (Pemantauan NKT 2.1)

a.

Pengamanan kawasan hutan dan fragmentasi hutan.

Penutupan hutan dan penebangan hutan, sarana prasarana dan kebakaran.

0% pengurangan luas areal hutan, zona inti dan zona penyangga NKT 2.1

Penafsiran citra satelit dan pemeriksaan silang di lapangan.

Tidak ada pengurangan luas hutan, zona inti dan zona penyangga NKT 2.1 dalam areal kerja PT GHL.

11.

Larangan Alat Berat Dalam Wilayah Sempadan Sungai Kecil dan Hutan Rawa untuk Mempertahankan Fungsi Hidrologis (Pemantauan NKT 4.1 dan 3)

a.

Larangan alat berat dalam wilayah sempadan sungai kecil dan hutan rawa.

Tanda-tanda alat berat didalam sempadan sungai kecil dan hutan rawa.

0% pemanfaatan alat berat didalam sempadan sungai kecil dan hutan rawa.

Survei lapangan sempadan sungai kecil dan hutan rawa.

Berdasarkan pemantauan yg dilakukan tidak dijumpai tanda-tanda alat berat di dalam sempadan sungai kecil dan hutan rawa.

12.

 Deaktivasi Jalan

a.

Dampak lingkungan dari jalan pasca pemanenan.

Tanda-tanda erosi disebabkan jalan sarad.

100% jalan sarad di deaktivasi setelah kegiatan pemanenan.

Survey rutin di areal RKT pasca penyaradan.

Berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan pada areal bekas jalan sarad/cabang dijumpai adanya pembuatan sudetan untuk meminimalisir terjadinya erosi.

13.

 Kegiatan Pemanenan Di Sekitar Desa(Pemantantauan Nilai Konservasi Tinggi 5).

a.

Dampak terhadap kebutuhan dasar masyarakat.

Tanda-tanda kegiatan penebangan di NKT 5 di sekitar desa oleh PT GHL

0% pemanfaatan di daerah NKT 5 yang disepakati masyarakat.

Pengamatan pada waktu patroli dan laporan dari masyarakat.

Berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan tidak dijumpai adanya aktifitas penebangan di daerah NKT 5.

14.

 Kegiatan Pemanenan di Kawasan Budaya dan Sekitar Situs Budaya (Pemantauan Nilai Konservasi Tinggi 6)

a.

Dampak terhadap kawasan budaya dan situs budaya masyarakat.

Tanda-tanda kegiatan penebangan di NKT 6 yang disepakati masyarakat.

0% pemanfaatan di daerah "Cagar Budaya" NKT 6 yang disepakati masyarakat.100% pelaksanaan Reduced Impact Logging (RIL) di kawasan yang boleh dikelola dengan kesepakatan masyarakat

Pengamatan pada waktu patroli dan laporan dari masyarakat.

Berdasarkan hasil pemantauan yg dilakukan tidak dijumpai aktifitas perusahaan di daerah/sekitar NKT 6.